G One

Nama-nama dalam cerpen ini hanyalah fiktif belaka, namun beberapa kejadian di dalamnya merupakan kisah nyata. hoho.

G-one

“Ayo, sekarang isi soal matematika no 1-10 dulu. Setelah itu kita bahas.”

Seperti biasa, malam ini aku mengajar privat di rumah Davin. Dia adalah salah satu murid yang butuh perlakuan ekstra, satu bulan menjelang Ujian Nasional masih banyak materi yang belum dipahami. Nilai Try Out tingkat Kecamatan pun mengecewakan, hanya bahasa indonesia yang mendapat nilai 6.00. Sisanya berada pada rentang 2.00 hingga 4.00. Ini masalah besar, jika nilai Davin tetap jelek, bisa-bisa aku tak akan diberi kesempatan untuk mengajar dia lagi. Maka terputuslah sumber nafkah ku.

Aku duduk mendekati Davin “Sudah selesai?”

Anak lelaki dengan kedua pipi seperti bakpau itu menggaruk kepalanya “Belum ka, dua soal lagi.’

Aku mengangguk, kembali menunggu sambil memainkan handphone. Inilah kegiatanku setiap sore hingga malam, mengajar les privat. Kalau bukan karena butuh uang, tidak akan kujalani pekerjaan ini. Apalagi mengajar anak dengan kemampuan minim, harus berusaha keras agar prestasi akademiknya dapat meningkat.

Davin meletakkan pensilnya “Sudah selesai ka.”

Aku melihat hasil jawaban Davin sambil menguap, sudah tak kuat lagi jika harus mengoreksi sendiri, karena itu aku menyuruhnya mengoreksi sendiri jawaban dan aku membacakan pilihan ganda yang benar. Dua jam mengajar privat terasa begitu lama, seolah ada yang menghentikan roda waktu. Dan aku terpenjara selama dua jam bersama anak-anak yang sebenarnya tidak memiliki semangat belajar, tapi orang tua merekalah yang semangat menyuruh anaknya belajar.

“Jawaban benar nya berapa Davin?”

“dua Ka.”

Aku memandang Davin “Dari 10 soal hanya betul dua?” aku mulai kesal dan bingung. Bagaimana caranya mengubah kemampuan anak ini agar bisa lulus Ujian Nasional dalam waktu satu bulan. Yah satu bulan, itu lah waktu yang tersisa untuk persiapan Ujian Nasional SMA pada 15 April 2013 nanti.

“Aduh Davin, bagaimana kamu mau lulus UN kalau nilainya begini. Dari 10 soal hanya bisa menjawab dua soal. Misalkan setiap 10 soal kamu memang hanya bisa menjawab dua soal, berarti dari 40 soal kamu hanya bisa menjawab 8 soal. Dan nilai yang akan kamu dapat adalah 20. Apa bisa lulus?”

Anak itu tidak menjawab, ia menunduk sambil memain-mainkan pensil. Aku menarik nafas, dan melihat jam yang menunjukkan pukul 20.30 WIB. Baguslah, tinggal 30 menit lagi les ini berakhir.

“Ka, aku les privat supaya lulus UN ya?”

“Ya, betul.” aku menjawab sambil mencari latihan soal lainnya untuk Davin.

Davin mengangkat kepalanya, berhenti memainkan pensil dan bertanya dengan nada serius “Kenapa sih harus ada UN?”

“Yah untuk standar kelulusan.”

“enurut Kaka, aku harus lulus UN apa enggak?” dia betanya pertanyaan yang pada awalnya terdengar sangat konyol ‘harus lulus apa enggak? Ya harus lah!

“Yah harus lulus Davin. Emang kamu mau mengulang SMA? Kalau Kamu tidak lulus banyak orang yang kecewa. Orang tua kecewa, guru-guru di sekolah kecewa, kaka juga kecewa kalau kamu enggak lulus”

“Oh gitu ya. Kalau targetnya untuk lulus UN, sebenernya aku enggak perlu les privat. Udah pasti lulus ko”

Aku mengerutkan kening “Kenapa?”

Pertanyaan singkatku dijawab panjang lebar oleh Davin. Ia menceritakan sesuatu hal yang sebelumnya pernah kualami. Sesuatu yang menghantarkanku dan seluruh teman satu sekolah hingga dapat lulus Ujian Nasional. Sambil mendengarkan cerita Davin, setengah pikiranku melayang ke masa empat tahun lalu. Ujian Nasional 2009.

2009

“Kamu jadi PJ Biologi, Na, ayolah—”

Aku berdiri meninggalkan Sandy “Enggak mau, ini nyontek massal namanya.”

“Yah terus kenapa? Kalau kita enggak bantu, temen-temen kita yang lain pasti ada yang enggak lulus.” Ia berteriak

Aku terdiam, namun sebenarnya sangat ingin menjerit sekeras-kerasnya. Apa ini tujuan dilaksanakannya UN? Agar terjalin solidaritas antara pihak sekolah dan seluruh siswa? Tapi kenapa bentuk solidaritas itu dengan cara mencontek massal?

Tadi pagi setelah upacara bendera, Kepala Sekolah kami mengumumkan akan diadakan ‘konsolidasi’ untuk mensukseskan UN tahun ini. sesaat setelah dilontarkannya kata ‘konsolidasi’ itu, lapangan upacara riuh oleh suara sorak siswa. Semua siswa sudah mengetahui apa arti dari kata ‘konsolidasi’ yang diucapkan Kepala Sekolah, itu berarti mencontek massal. Program ini sudah berhasil dijalankan tahun lalu hingga akhirnya sekolah kami dapat mencapai prsestasi 100% siswa lulus Ujian Nasional.

Program konsolidasi tahun ini diberi nama G1, kepanjangan dari Group one, yaitu sebuah tim yang disusun untuk menjalankan aksi mencontek massal ini. Dan sialnya, aku terpilih menjadi salah satu panitia G1 itu. Harus bangga atau miriskah? Entah. Program ini tersusun sangat rapi, jika dibuat sebuah organigram mungkin akan tertera, Pembina G1: Kepala Sekolah, Ketua G1: Kepala Bimbingan Konseling, Koordinator Siswa: Sandy Arya Irawan, PJ Matematika: Ardiansyah Taufik, PJ Bahasa Inggris: Artanti Widyastuti, PJ Bahasa Indonesia : Citra Purnama, PJ Fisika: Billyan Restu, PJ Kimia: Frilia Aghni Anggunsari, PJ Biologi: Sayyina Putri Astari. Perfect! Nama terakhir itu aku!

Setelah dibentuknya G1, siswa kelas XII terbagi menjadi tiga kubu. Kubu pertama adalah mereka yang pro G1, anggotanya adalah anak-anak yang yakin tidak akan lulus UN dan yang yakin temannya tidak akan lulus UN, juga mereka yang menamai dirinya ‘tim solid’. Kubu kedua adalah pihak yang kontra G1, anggotanya adalah anak-anak Rohis dan sebagian tim olimpiade sekolah. Kubu ketiga adalah mereka yang adem-ayem tidak terganggu dengan dibentuknya G1. Oh, sungguh indah hidup kubu ketiga ini, tapi sayangnya aku termasuk kubu kedua.

Setelah pihak sekolah membentuk G1 beserta perangkatnya, kami pun dari kubu dua membentuk panitia yang diberi nama G7 karena tim intinya berjumlah tujuh orang. Tugas G7 adalah memberikan pencerahan kepada para siswa untuk tidak berpartisipasi dalam G1 dengan cara pendekatan personal kepada para siswa atau langsung pengkondisian kelas. Aksi ini berjalan kurang lebih satu minggu, hingga akhirnya pihak G1 mencium gelagat kami dan memanggil tiga orang anggota G7. Pihak G1 menyuruh kami agar menghentikan aksi ini dan ikut serta dalam program G1, perundingan berjalan alot karena kami tetap bersikeras tidak ingin berpartisipasi. Hingga akhirnya dibuat kesepakatan, kami dibebaskan untuk ikut berpartisipasi atau tidak, tetapi dengan syarat yaitu jangan mengajak siswa lain untuk bergabung, cukup tujuh orang saja. Baiklah, bagaimana bisa kami menolak lawan diskusi yang merupakan guru kami? Etika harus tetap dijaga. Walaupun pada saat itu kami bingung, sebenarnya apa definisi etika itu?

Detik-detik menjelang Ujian Nasional, seperti yang telah diberitakan sebelumnya, malam hari sebelum UN, seluruh siswa akan menerima sms yang berisi kunci jawaban UN. Pada pagi harinya, disaat UN berlangsung, PJ mata pelajaran bertugas mengecek kunci jawaban yang telah diberikan. Apabila ada kesalahan langsung sms jawaban yang benar kepada koordinator siswa, selanjutnya, koordinator siswa akan mengirimkan pesan itu ke setiap PJ kelas. Sungguh rencana yang sistematis, salut!. Kegiatan ini berlangsung hingga berakhirnya UN, dan para pengawas ujian yang terhormat sangat kooperatif dan demokratis dengan memberikan kesempatan kepada para siswa untuk bermusyawarah melalui sms saat ujian berlangsung. Jika saat itu aku ditanya ‘Nina, coba berikan contoh perwujudan sila keempat? mungkin aku akan berpikir sejenak dan mengatakan ‘contohnya adalah musyawarah yang dilakukan siswa kelas XII IPA 1 saat Ujian Nasional berlangsung hingga tercapai mufakat jawaban yang benar’ dan guru yang memberikan pertanyaan akan menjawab ‘betul sekali. Nilai 100 untuk Nina’. Dan kupastikan guru yang memberikan pertanyaan itu adalah anggota G1!

“Ka? Gimana Ka?” Davin membuyarkan lamunanku

“Hah? Apa?”

“Kaka enggak dengerin cerita aku ya?”

Aku menggeleng, lalu mengangguk “Dengerin ko.”

“Jadi gimana Ka, aku lulus UN jangan?”

Pertanyaan yang lima belas menit tadi dengan mudah kujawab, kini berubah menjadi pertanyaan yang sangat sulit. Harus memberikan jawaban apa? Harus idealis atau realistiskah? Membiarkan Davin lulus dan menjadikan orang tuanya senang, sehingga aku tetap diberikan kesempatan untuk mengajar adiknya yang tahun ini akan masuk SMA, atau menyuruh Davin mengerjakan soal secara jujur dengan konsekuensi ada peluang untuk tidak lulus dan pastinya peluang aku kehilangan pekerjaan. Dilematis. Mungkin ini juga yang empat tahun lalu dialami oleh Kepala Sekolah dan seluruh guru di sekolahku, mengambil risiko ada siswa yang tidak lulus UN dan menurunkan prestasi sekolah atau mengambil jalan pintas untuk menyelamatkan citra sekolah.

Benar-salah-baik-buruk, sudah sulit dibedakan saat ini. Pendidikan yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia kini sudah tak termaknai lagi. Setidaknya aku juga begitu, menjadi guru les privat memang bukan keinginanku, tapi setelah menerima tanggungjawab untuk mendidik harusnya itu dilaksanakan dengan baik. Nasib bangsa ini ada ditangan para pendidik, apakah akan membentuk anak menjadi manusia yang berakhlak atau sebaliknya. Miris sekali jika G1 merebak diseluruh sekolah di Indonesia. Akan jadi apa negeri kita ini?

Tak terasa jam menunjukkan pukul 21.00, waktunya pulang. Baru kali ini waktu les terasa begitu singkat.

Aku merapikan buku “Les hari ini selesai, kita ketemu lagi senin depan ya.”

Davin mengangguk sambil merapikan peralatan belajarnya.

Aku berdiri, lalu tersenyum sebelum melangkahkan kaki “Makasih ya, Davin.”

“Makasih buat apa ka?”

Kembali kujawab pertanyaan Davin dengan senyuman, terimakasih atas penghantaran yang telah mengubah cara pandangku. Baru kali ini aku merasa bangga menjadi seorang pendidik.

Iklan

Salahkah Jadi Introvert?

“Curhat, dong!”
“Cerita kalau ada masalah.”
“Jangan dipendam sendiri.”
“Jangan mengurung diri di kamar, bersosialisasi sama yang lain biar beban berkurang.”
Nah, wahai saudara-saudara yang pernah berkata demikian, justru dengan perkataan seperti itu semakin membuat saya terbebani dan semakin berat. Setiap orang itu unik, dan mungkin saya termasuk salah satunya–terkadang susah dibedakan antara unik dan aneh–yah, intinya, jangan samakan setiap orang. Memikirkan masalah sendirian, bebas dari komentar orang-orang, tidak menjadi pusat perhatian, berada di ruangan yang hanya ada diri saya sendiri, itulah yang saya butuhkan–tentunya Dia selalu ada.
Terima kasih atas segala perhatiannya, tapi sayangnya, manusia aneh ini merasa terbebani jika mendapat terlalu banyak perhatian.

Salahkan Jadi Introvert?

“Curhat, dong!”

“Cerita kalau ada masalah.”

“Jangan dipendam sendiri.”

“Jangan mengurung diri di kamar, bersosialisasi sama yang lain biar beban berkurang.”

Nah, wahai saudara-saudara yang pernah berkata demikian, justru dengan perkataan seperti itu semakin membuat saya terbebani dan semakin berat. Setiap orang itu unik, dan mungkin saya termasuk salah satunya–terkadang susah dibedakan antara unik dan aneh–yah, intinya, jangan samakan setiap orang. Memikirkan masalah sendirian, bebas dari komentar orang-orang, tidak menjadi pusat perhatian, berada di ruangan yang hanya ada diri saya sendiri, itulah yang saya butuhkan–tentunya Dia selalu ada.

Terima kasih atas segala perhatiannya, tapi sayangnya, manusia aneh ini merasa terbebani jika mendapat terlalu banyak perhatian.

Cerpen Lawas

Last post, cerpen ini saya tulis empat tahun lalu. Ditulis dengan sangat terburu-buru untuk mengikuti lomba di kampus, demi beberapa lembar rupiah seratus ribuan. haha.

Selalu Begitu

            Selalu saja begitu, kau akan menangis saat bercerita tentang teman priamu yang menyebalkan itu. Dan selalu saja begitu, aku tak hentinya mengejekmu hingga tangismu kian menjadi, dan akhirnya kau berlari ke kamar sambil membanting pintu. Namun akhirnya, aku mengejarmu dan membujuk agar kau keluar dari kamar. Dan pasti, kau akan keluar dengan memasang wajah yang semrawut, dan aku paling tahu bagaimana cara mengatasinya—chocolate ice cream.

            Karena kau selalu saja begitu.

***

            Paginya, kau bangun dengan mata merah karena menangis semalaman. Tak nafsu makan, dan berangkat kuliah dengan lunglai, tanpa menyapaku. Saat itu, aku hanya memandangimu dengan heran tanpa berkomentar apapun. Dan selalu saja, beberapa menit kemudian kau akan berlari-lari kembali menuju kosan, mengambil makalah yang tertinggal. Dan selalu saja, aku tertawa puas melihat tingkahmu dan berkomentar dengan bangga, bahwa kau kekanakan dan akulah yang bersikap dewasa. Setelah itu, aku berangkat ke kampus sambil menahan tawa.

***

            Malam harinya, kau kembali bercerita tentang teman priamu itu. Dan tak ada perubahan tentang komentarku mengenai ceritamu itu.

Kubilang “Jangan terlalu berharap lebih pada seseorang karena mereka tidak dapat seratus persen dipercaya.”.

Dan jawabanmu selalu sama “Kau berkata seperti itu karena tidak pernah menyukai seseorang.”.

Dan pastinya aku tidak mau kalah, “Tidak ada cinta sejati, tidak ada sahabat sejati, tidak ada keluarga sejati. Yang ada hanyalah kepentingan sejati.”

Saat aku memulai ceramahku, selalu saja kau terlelap bagai bayi.

            Entah mengapa kita bisa sangat akrab dengan segala perbedaan. Kau yang kekanakkan selalu saja bercerita tentang hal-hal yang menurutku tak terlalu penting. Dan aku yang kau sebut ‘si nenek tua’, selalu bercerita masalah-masalah berat menyangkut politik, agama, HAM dan yang lainnya. Kita akan berebut tv saat jam lima sore. Kau menyembunyikan remote karena tak ingin acara drama koreamu terganggu, dan aku tak kalah ide, berusaha mengganti channel ke acara berita politik. Dan selalu saja begitu, kau akhirnya menjulurkan lidah jika aku tak berhasil menemukan remote tv.

            Karena kau, selalu saja begitu.

***

            Hingga saat menginjak semester lima perkuliahan, kita harus terpisah karena keadaan. Beasiswamu dicabut!. Kau sangat bingung saat itu, aku juga tak kalah bingung. Jelas tak ada harapan lagi jika beasiswa itu benar-benar dicabut, keluargamu tak akan mampu membiayai. Aku sangat tahu itu. Selalu saja begitu, kau menangis selama dua hari dan tak ingin makan. Kali ini tak ada komentar dariku. Ini masalah besar, masa depanmu dipertaruhkan. Aku tahu benar, betapa beratnya menceritakan kenyataan ini pada emak bapakmu di kampung. Mereka terlalu berharap besar, dan kau pun terlanjur bermimpi besar.

            Kau pergi ke kampung halamanmu di tanah Minang sana. Meninggalkan segala kenangan di kota hujan ini, kau berjanji akan sering menelpon dan berkirim email padaku. Dan selalu saja begitu, kau pergi dengan mata merah karena menangis semalaman. Sebelum itu, kau mengeluarkan remote tv yang seminggu lalu kau sembunyikan. Kita pun tertawa berdua.

***

            Setiap hari aku menelponmu, dan setiap hari pula kau berkirim email padaku. Kau bercerita sangat banyak melalui surat elektronik itu, dan akupun membalas tak kalah panjang di sana. Selang beberapa bulan, kau bilang handphone-mu tidak aktif dan kita hanya bisa berkomunikasi lewat email. Dunia nyata kita kini pudar, dan yang ada hanyalah dunia maya di depan mata. Kau menandai foto terbarumu lewat facebook,dan aku pun menandai foto kosan kita, karena kau bilang ingin melihatnya.

            Kudengar, kau telah bekerja di sana dan memiliki penghasilan yang lumayan, walau kau tak pernah bercerita tentang hal itu kepadaku—aku mendengarnya dari Dina, teman sekampungmu. Tak dapat diceritakan semuanya jika hanya lewat email, aku maklum. Dari ceritamu, kau hanya bilang sedang mengumpulkan uang agar bisa kuliah lagi. Kau bertanya padaku bagaimana cara mendapat uang yang cepat sekarang ini, dan aku menjawabnya dengan gurauan. Kita pun tertawa di tempat yang berbeda. Aku tak peka saat itu, bahwa kau benar-benar sedang sangat membutuhkan uang.

***

            Dua tahun terlewati, dan kita tak pernah putus komunikasi. Walaupun hanya dunia maya, aku tak peduli, karena bagiku sahabatku begitu nyata. Pernah kuminta nomor handphone-mu saat ini, karena sudah hampir dua tahun tidak mendengar suaramu.

Tapi kau bilang “Aku tidak punya uang untuk membeli handphone.”,

Aku mengernyitkan dahi membaca alasanmu itu. Bagaimana tidak? Teman sekampungmu yang kuliah di kota hujan ini mengatakan bahwa kau telah mendapat pekerjaan yang mapan. Kau berhasil membeli mobil, dan menyulap rumah reyod emak bapakmu menjadi bangunan layak huni berlantai dua, juga kau berniat untuk menaikkan haji emak bapakmu tahun ini. Aku turut senang mendengar keberhasilanmu, walau agak mengherankan. Pekerjaan apa yang kau dapatkan, dengan hanya berbekal ijazah SMA, hingga dapat berlimpah harta seperti ini? dalam waktu kurang dari dua tahun pula.

            Kupendam segala pertanyaan ini, tak banyak yang bisa diharapkan dari surat dunia maya ini.

***

            Sebulan kemudian, kau mengatakan tidak akan berkirim email dulu. Aku menanyakan alasannya, tapi tak ada jawaban. Kau selalu saja begitu, berdiam diri saat memiliki masalah. Pikirku, apa mungkin sekarang kau sedang mengurung diri di kamar?

***

            Pada senja yang berwarna jingga, aku berangkat ke tanah Minang untuk menemuimu. Aku masih menyimpan alamat lengkapmu. Sepanjang perjalanan, bayangan masa kuliah selalu saja muncul. Tak ada yang menyembunyikan remote lagi sekarang ini. Seberkas senyuman hadir kembali setiap kuingat masa itu.

***

            Terjadi kerusuhan di tanah Minang saat ini, sepanjang jalan dipenuhi oleh mobil patrol polisi. Menurut kabar, sedang terjadi penggrebekkan gudang narkoba di daerah sini, dan Bandar narkobanya belum juga ditemukan. Aku terpaku sesaat, kudengar nama Soraya” disebut-sebut sebagai Bandar narkoba itu. Dia seorang gadis muda, umurnya kurang lebih dua puluh empat tahun. Ciri-ciri fisiknya, tinggi 166 cm, berkulit putih, berwajah oriental, dan memiliki tahi lalat di atas alis sebelah kanan.

            Soraya? Pikiranku tertuju pada sahabatku itu. Nama yang sama, ciri-ciri fisik yang sama. Soraya sahabatku memang berwajah oriental, karena ayahnya adalah keturunan Tionghoa sedangkan ibunya darah Minang asli.

Ah, bukankah banyak sekali orang bernama soraya di Indonesia ini. Aku melanjutkan langkahku, walau dengan hati tak menentu.

***

            Tiba-tiba terdengar suara tembakan, sangat dekat. Aku berbalik ke belakang, kudapati para polisi berjejer radius empat meter di depanku. Dan betapa kagetnya aku, saat kudapati seseorang yang terkulai lemah di tengah jalan.

Wajah itu—perasaanku mulai tak karuan. Wanita yang terkena tembakan peringatan di kaki kirinya itu mengangkat wajah. Mata merah itu memandangiku, menatap nanar ke arahku. Mata merah itu, persis sama seperti dua tahun lalu.

            Tak terasa mataku basah, mata merah itu memang sama, sahabatku.

Nyatakah ini?

Ataukah masih di dunia maya?

Ya, mungkin ini hanya fantasi dunia maya. Bukankah kita sedang berkirim email?

Aku terus membuat alibi bagi sahabatku.

***

Besoknya, di senja yang berwarna jingga, kukirimkan sebuah pesan ke email-mu. Entah kapan kau akan membacanya. Kupikir untuk waktu yang lama kita memang tidak akan berkomunikasi lagi, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

            Mesin terbang ini mulai meluncur, meninggalkan tanah Minang.

            Sementara itu, dibalik jeruji besi, di tempat lain di tanah Minang ini, dua bola mata merah memandang nanar. Mata yang memang sama.

            Kau selalu saja begitu kekanakkan, kau selalu saja begitu. Kau memang pemilik mata merah itu, sahabatku.

***

Peralatan (Syair Edgar Guest)

Selamat dan semangat pagi.
Sebelum memulai aktivitas, saya perlu asupan energi, dan kali ini sebuah energi itu muncul ketika membaca syair Edgar Guest. Mari membaca bersama!

Renungkanlah bagi dirimu sendiri wahai pemudaku,
Engkau mempunyai semua yang dimiliki oleh orang-orang besar,
Dua lengan, dua tangan, dua kaki, dua mata,
Sebuah otak yang dapat digunakan kalau engkau bijaksana.
Dengan peralatan inilah mereka semuanya memulai,
Mulailah dari atas dan berkatalah “saya bisa”

Amatilah mereka, orang yang bijaksana dan yang hebat,
Mereka menyantap dari piring biasa,
Dan menggunakan pisau serta garpu yang sama,
Dengan tali sepatu yang sama mereka mengikat sepatu mereka,
Dunia menganggap mereka sebagai pemberani dan cerdik pandai,
Namun Anda mempunyai segala-galanya yang mereka miliki sewaktu mereka mulai.

Engkau dapat menang dengan menjadi terampil,
Engkau dapat menjadi besar bila engkau mau.
Engkau diperlengkapi dengan baik untuk pertarungan yang engkau pilih,
Engkau mempunyai tangan dan kaki dan otak yang dapat kau gunakan,
Dan orang yang telah bangkit mengerjakan hal-hal yang besar,
Memulai hidupnya dengan tidak lebih daripada engkau.

Engkaulah hambatan yang harus kau hadapi,
Engkau adalah orang yang harus memilih tempat,
Engkau harus berkata ke mana engkau akan pergi,
Berapa banyak akan kau pelajari, kebenaran yang ingin kau ketahui.
Tuhan telah memperlengkapi engkau untuk hidup, tetapi ia membiarkan engkau untuk menentukan apa yang engkau kehendaki.

Keberanian harus muncul dari dalam jiwa,
Orangnya harus menyediakan kehendak untuk menang.
Pikirkanlah bagi dirimu sendiri, hai pemudaku,
Anda telah dilahirkan dengan segala yang dimiliki orang-orang besar,
Dengan perlengkapan Andalah mereka semuanya mulai.
Kuasailah dirimu sendiri, dan katakanlah “saya bisa.”

Have a nice day!

Ocehan Sebelum Tidur

Memang, tidak ada yang abadi di dunia ini. Begitupula dengan kebiasaan dan sifat manusia, dapat berubah seiring waktu. Dulu, saat masih SD, aku selalu menangis jika tidur lewat dari jam 9 malam. Sekarang, malah hampir tak pernah bisa untuk tidur jam ‘segitu’.

Dulu, aku takut pada malam dan hujan, karena malam itu gelap dan hujan membuatnya membuatnya semakin kelabu. Tapi sekarang, mereka berdua menjadi favoritku. Karena dalam gelap, tak banyak yang memperhatikanku, dan dalam suasana kelabu, orang-orang hanya menganggapku angin lalu.

Yah, itulah aku. Biarkan tetap menjadi gelap dan kelabu. Aku ada, tapi tak usah dianggap ada. Aku memperhatikan semua, tapi tak usahlah balik memperhatikanku.

Segala ketidakpedulia kalian membuatku nyaman.

Selamat malam.

DEA

Selasa, 14 Mei 2013; 20.47 WIB

And mommy you were always somewhere

Daddy I live out of town

So tell me how could I ever be normal somehow

You tell me this is for the best

So tell me why am I in tears?

So far away, and now i just need you here

Sudah berkali-kali kali lagu ini diputar, dan selalu muncul perasaan yang sama. Sepi, kesal, takut, marah, sedih, dan emosi negatif lain muncul secara bergantian. Aku seorang diri di sini, aku sebatang kara di dunia yang luas ini. Orang-orang yang mengelilingiku tak ubahnya hanyalah serigala berbulu domba. Mereka berpura-pura baik tapi sebenarnya selalu bersiap untuk menerkamku dari belakang. Oh tidak, kali ini mereka sudah berani mencabikku dari depan. Mereka sangat buas, mereka kejam, aku tak tahan. Aku rindu Mama, aku rindu Papa. Aku tak pernah melihat mereka lagi sejak dua bulan lalu, mereka pergi entah kemana, mereka meninggalkanku bersama orang-orang asing ini. Aku tidak suka.

***

Kamis, 16 Mei 2013; 07.08 WIB

Selamat pagi dunia, aku bangun dari tempat tidur dan langsung membuka gorden, ingin menyapa mentari hari ini. Sayangnya, aku hanya bisa menyapanya dari balik kaca jendela, karena mereka tidak memperbolehkanku keluar dari kamar ini. Mereka jahat, aku seperti Rapunzell yang dikurung di kastil yang penuh mantera sihir, sulit untuk keluar. Terdengar suara langkah kaki, aku langsung melompat ke tempat tidur dan menutup seluruh tubuhku dengan selimut. Pintu mulai terbuka, dari suara batuknya, aku tahu itu pasti Maya. Usianya kepala empat, tapi penampilannya terlihat seperti usia lima puluhan. Kulitnya banyak kerutan, rambutnya gimbal dengan beberapa uban menghiasi, dan sorot matanya selalu tampak tak bersemangat. Hidup segan mati tak mau, mungkin itu ungkapan yang tepat.

Kudengar, ia seperti itu karena depresi memikirkan putrinya. Entah apa yang terjadi pada putrinya itu, aku tidak pernah mendengar cerita lengkapnya. Sempat terpikir, mungkin putinya meninggal, atau putrinya sakit jiwa karena tidak tahan memiliki ibu seperti itu. Jika aku menjadi putrinya, mungkin aku pun akan sakit jiwa. Dia sangat kejam, kejam. Dia mengurungku seharian, tidak memperbolehkanku menonton televisi, mengambil handphone dan laptopku, tidak mengizinkan teman-temanku berkunjung, dan satu lagi yang paling kubenci adalah ia memisahkanku dari Mama dan Papa. Aku sangat merindukan mereka, sangat rindu.

Terdengar suara pintu terbuka, ia masuk. Aku berbaring membelakangi pintu, pura-pura tidur. Ia memanggil namaku, menyuruhku makan. Aku tidak menjawab. Ia lalu mencoba membalikkan badanku, tapi langsung kusingkirkan tangannya. Aku melawan, ia terlihat kaget, tapi aku tahu itu hanya acting. Ia kembali menyuruhku makan, aku berkata padanya bahwa aku tidak mau makan. Aku menyuruhnya keluar, tapi ia tetap duduk di tempat tidurku. Aku memukulnya, tapi ia tetap diam. Aku memukulnya lebih keras lagi, ia meringis tapi tetap tak beranjak. Aku mengambil vas bunga dari meja dan memukulkannya tepat di kepala, ia menjerit kencang, dan tak lama kemudian kamar kecil ini penuh dengan manusia. Enam orang termasuk aku memenuhi ruangan ini. Mereka terlihat panik. Satu orang membawa Maya keluar—kepalanya berdarah—dan yang lainnya tetap diam di kamar, memandangiku dengan pandangan aneh. Aku paling tidak suka itu.

***

Minggu, 19 Mei 2013; 09.32 WIB

Apa ini mimpi?

“Papa?” lelaki dihadapanku tersenyum manis, ia membuka kacamatanya yang berembun akibat air mata.

“Iya Nak, ini Papa. Dea inget Papa?”

Pertanyaan macam apa itu, tentu aku ingat. Aku selalu mengingat Papa dan Mama, aku selalu merindukan kalian, mana mungkin aku lupa.

Belum sempat aku menjawab pertanyaanya, ia berlari keluar kamar sambil berteriak “Ma, Mama—ke sini Ma—“

Mama? Mama ada di sini? Rasanya senang bukan main, Mama dan Papa ada di sini, akhirnya.

Tidak lama kemudian, Mama masuk ke kamar—itu memang Mama, dengan daster bunga-bunga kuning kesayangannya, aku rindu sekali padanya.

“Mama—“ aku beranjak dari tempat tidur dan segera memeluknya. Mama pun memelukku, sangat erat hingga aku kesulitan bernapas. Aku mendengar isak tangisnya, ia berbicara sambil menangis sehingga aku tidak bisa mendengar perkataannya dengan jelas. Aku berada dipelukannya—lama, rasanya tak ingin momen ini berakhir. Aku sudah mempersiapkan banyak cerita untuk Mama dan Papa. Sambil menyandarkan kepalaku di pundaknya, aku memejamkan mata, mencoba merangkai kata dan memilih cerita mana yang akan aku ceritakan terlebih dulu. Satu, dua, tiga, empat, ternyata jumlahnya jauh lebih banyak dari yang kukira, aku memiliki banyak cerita selama dua bulan ini. Baiklah, aku sudah memilih satu cerita dan hap—ku buka mata.

Astaga! Betapa kagetnya aku, saat ku buka mata, aku melihat Mama sedang berdiri di mulut pintu, ia berjalan mundur, perlahan pergi meninggalkan kamar ini, Papa juga begitu. Lalu, siapa orang yang memelukku? Jantungku berdegup kencang, aku tidak berani mengangkat wajah, terlalu takut untuk mengetahui siapa orang ini. Namun, saat jantungku masih berdegup kencang dan otakku sedang berpikir keras, orang ini melepaskan pelukannya, kulihat wajahnya—

“Argggghhhh— Tidak—“ aku menjerit histeris, dia Maya, dia wanita kejam itu, dia bukan Mama.

***

Rabu, 22 Mei 2013; 02.45

Gelap. Sudah malam kah? Aku beranjak dari tempat tidur dan membuka gorden, yah memang sudah malam, oh tidak, tepatnya sudah pagi—jam dinding menunjukkan pukul 02.45. Rasanya seperti telah tertidur lama sekali. Leher, tangan dan kakiku terasa pegal. Tenggorokanku kering, aku butuh air. Aku keluar dari kamar, menuruni tangga dengan perlahan—semua lampu dimatikan, aku harus berpegangan saat berjalan. Aku sengaja tidak menyalakan lampu karena takut serigala-serigala buas itu terbangun, jangan sampai malam yang damai ini berubah mengerikan dengan kehadiran mereka. Aku sampai di dapur dan mengambil sebotol air dan sepotong puding cokelat dalam lemari es, perutku juga keroncongan. Aku mengambil sendok kecil dan langsung melahap puding—rasanya tidak asing, seperti puding buatan Mama, aku tahu betul rasa masakan Mama. Aku mengambil sepotong puding lagi, dan melahapnya dalam waktu singkat. Dua potong puding ludes, tapi lambung ini masih meminta untuk diisi. Akhirnya, aku membawa semua puding yang ada di lemari es ke kamar. Berjalan mengendap-endap ke kamar sambil membawa sebotol air dan sepiring puding, aku merasa seperti pencuri di rumahku sendiri. Mengapa harus mengendap-endap? Ini rumahku, mengapa harus takut mereka bangun? Ini rumahku.

Kedua tanganku penuh oleh air dan puding, jadilah aku tidak bisa berpegangan di ruangan yang gelap ini. Kaki ini meraba-raba anak tangga sebelum menaikinya, sangat sulit untuk berjalan ditengah kegelapan ditambah dengan gaun tidur yang panjangnya semata kaki. Tiga atau empat tangga terakhir, aku mempercepat langkahku, ingin segera memasuki kamar. Namun, saat melangkah lebih cepat, bagian belakang rok terinjak sehingga aku terpelanting ke belakang. Botol minum dan piring puding jatuh dan menimbulkan bunyi yang cukup untuk membangunkan serigala-serigala tidur itu. Tubuhku berguling menuruni tangga, sakit. Aw, tulang ini serasa remuk dan ‘BUGG’ kepalaku terbentur kaki tangga. Darah mengucur dan aku serasa melayang keluar dari rumah melewati cerobong asap.

***

Rabu, 22 Mei 2013 ; 16.23 WIB

Rumah Sakit Karya Bakti, Bogor

Dimana ini?

Ow, ruangan ini bau obat, aku tidak suka. Mengapa aku ada di sini? Ini seperti—rumah sakit. Aku memandangi seluruh ruangan ini, kulihat ada seorang gadis terbaring di tempat tidur. Aku mendekatinya, perlahan wajahnya terlihat jelas dan—oh tidak! Aku tidak mempercayai ini. Bukankah itu aku? Gadis yang terbaring di ranjang itu, itu aku? Bagaimana bisa, aku sedang berjalan mengelilingi ruangan ini, mana bisa di waktu yang bersamaan aku pun terbaring di tempat tidur?

Aku berjalan ke samping tempat tidur. Kuperhatikan wajahnya, benar, mirip, sangat mirip denganku. Tahi lalat di kelopak mata kiri, alis tebal, bola mata cokelat, dan satu lagi yang membuatku sangat yakin—bekas luka di dagu, semua sangat mirip. Aku mencoba menyentuh wajahnya, tapi anehnya tanganku tidak bisa menyentuhnya. Tembus, tanganku dapat menembus wajahnya. Oh Tuhan, ini seperti cerita di film-film. Apa aku ini hantu?

Saat kekagetanku belum berakhir, dua orang—laki-laki dan perempuan—memasuki ruangan ini. Aku mengenal salah seorang diantara mereka, Mama? Itu Mama, dan laki-laki itu pasti dokter, aku bisa tahu dari baju putih dan stetoskop yang menggantung di lehernya. Mereka berbincang, anehnya lagi, aku tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan. Aku menepuk-nepuk telingaku, kenapa aku ini? semuanya menjadi sangat aneh.

Dokter memeriksaku, setelah itu ia mengatakan sesuatu yang membuat Mama menangis. Aku tidak tahu apa yang dia katakan, tapi yang pasti itu adalah hal buruk. Mama, ada apa ini? aku kenapa? Kenapa aku bisa terbaring di tempat tidur dan aku pun bisa berjalan-jalan di sini? Oh, sungguh ini sangat menyiksa otakku, aku pusing, aku bingung. Mama—

Dokter keluar ruangan dan tangis Mama kian menjadi—ku lihat dari ekspresinya. Mama lalu mengeluarkan buku kecil—diary—dari tasnya dan mulai menulis, goresan tangannya sesekali terhenti karena mengusap air mata. Ia terus menulis dan aku pun terus memperhatikannya tanpa berkedip. Saat sedang asyik melihat Mama menulis, seseorang memanggilnya dari luar, ia pun segera beranjak keluar dan meninggalkan tulisannya di atas meja. Aku mengampiri meja, ingin sekali dapat membaca tulisan Mama. Tapi bagaimana bisa, aku tak bisa menyentuh apapun, termasuk diary ini. Hmm, andai lembaran buku ini bisa terbuka sendiri, aku ingin membacanya dari awal. Aku ingin membaca diary Mama, dari dulu aku selalu ingin membacanya.

Angin berhembus kencang dan membalikkan lenbaran halaman diary Mama, aku tercengang, takjub. Angin itu lalu berhenti dan membuka Diary di halaman pertama. Aku mulai membaca. Setiap aku selesai membaca satu halaman, lembaran kertas ini membalik sendiri ke halaman selanjutnya, entah siapa yang melakukan ini—aku pun tak terlalu peduli. Aku terus membaca, hingga halaman ini tidak ada yang aneh, hanya menceritakan kegiatan harian Mama—menyiapkan sarapan, mengantar Mia ke sekolah, memarahiku yang pulang telat, memuji Gea karena rajin membantu memasak, kesal dengan Papa yang masih merokok—yah, tidak ada hal istimewa. Hingga di halaman berikutnya, aku menemukan hal yang tidak terduga.

***

Sabtu, 2 Maret 2013

Happy Holiday!

Hari ini hari ulang tahun si kembar. Kedua putri cantik saya genap berusia 16 tahun hari ini. Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, selamat ulang tahun Gea, selamat ulang tahun Dea. Mama nggak bisa ngasih apa-apa, cuma ini aja hadiahnya. Kalian sudah lama ingin pergi ke Bali kan? Sekarang waktunya cantik, mari bersenang-senang, bolos sekolah seminggu nggak apa-apa lah ya.

Minggu 3 Maret 2013

Hari kedua di Bali. Kami berjalan-jalan ke Pantai Kuta dari pagi-siang. Disana, Dea menggoda turis-turis muda, dasar anak ini, tapi karena itu aku jadi tahu ternyata bahasa inggrisnya bagus. Gea seperti biasa, sibuk dengan handphone nya. Si kecil Mia asik berlari-lari di pantai, bermain pasir dan merengek ingin naik banana boat. Papa seperti biasa, selalu bahagia selama masih ada rokok ditangannya, baginya tidak ada perbedaan apakah ini Bali atau Bogor. Terimakasih Tuhan karena telah memberi saya keluarga kecil ini. Saya sangat sayang mereka, mereka segalanya bagi saya.

Selasa, 5 Maret 2013

Mia demam, dari malam panasnya tinggi. Jadilah hari ini saya tinggal di hotel menjaga Mia, tidak ikut jalan-jalan. Papa juga tidak ikut, dia harus pulang ke Bogor, akan ada kiriman barang ke toko. Si kembar pergi berdua, mereka membawa mobil rental. Saya sudah melarangnya mengemudi karena belum memiliki SIM, tapi mereka tetap bersikeras ingin membawa mobil sendiri. Sudahlah, daripada keduanya mengamuk, saya izinkan saja, toh mereka sudah lancar mengemudikan mobil.

Selasa, 5 Maret 2013

Sudah jam 10 malam, kemana mereka? si kembar belum pulang. Saya sangat khawatir. Handphone keduanya tidak aktif. Saya sudah menelfon Papa, tapi ia tidak bisa membantu apa-apa. Tuhan, tolong lindungi putri hamba, semoga mereka baik-baik saja.

Rabu, 6 Maret 2013

Ini hanya mimpi. Ini hanya gurauan. Mengapa harus dia, Tuhan? Mengapa Kau ambil putri saya secepat ini, dia baru berusai 16 tahun beberapa hari yang lalu. Tidakkah memberi kesempatan lebih lama lagi?

Gea, Mama sayang Gea, Mama sangat sayang Gea.

Selasa, 12 Maret 2013

Dea tidak mau makan, tidak mau bicara. Ia mengurung diri dikamar seharian ini. Menangis, melamun, tidur, itu yang dikerjakannya selama kurang lebih seminggu ini. Kepergian Gea sangat membuatnya terpukul. Saya bisa mengerti itu, pastia Dea merasa sangat bersalah. Saat kecelakaan terjadi, dia yang mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi hingga Gea meninggal. Saya harap Dea akan segera sembuh dari traumanya, saya tidak mau kehilangan lagi. Sudah cukup.

 

Kamis, 16 Mei 2013

Saya tidak tahan lagi. Tuhan, tolong berikan ketabahan. Saya tidak sanggup melihat Dea seperti ini. Keadaannya semakin buruk. Ia sudah tidak mengenali kami, ia seperti orang lain.

Hari ini, dia menolak makan dan mengamuk. Dia melempar saya dengan vas bunga hingga kepala saya berdarah.

Ada apa dengan Dea? Mengapa dokter mengatakan hal itu, asal saja dia berbicara. Dea tidak gila, dia tidak mengalami gangguan jiwa. Dia hanya masih bersedih karena kepergian Gea. Hanya itu. Dea tidak gila seperti yang dokter dan orang-orang katakan. Putri saya baik-baik saja, besok pun dia pasti sudah masuk sekolah. Putri saya baik-baik saja, Dea baik-baik saja.

Minggu, 19 Mei 2013

Hari ini Dea sempat mengenali saya dan Papa, walau sesaat. Tak apa, mungkin ini pertanda baik. Setidaknya hari ini saya sudah kembali mendengarnya memanggil Mama. Dea, cepat sembuh ya nak, Mama sayang Dea.

Senin, 20 Mei 2013

Dea tidur seharian. Setelah mengamuk kemarin, ia tidak mau makan dan terus tidur. Saya takut dia sakit. Tuhan, bagaimana ini?

Selasa, 21 Mei 2013

Dea hanya minum satu gelas susu. Sudah. Dia tidak mau makan apa-apa. Saya sudah kehabisan cara untuk membujuknya makan. Rasanya ingin menangis seharian.

Rabu, 22 Mei 2013

Dea terjatuh dari tangga. Sekarang ia di rawat di rumah sakit. Tuhan, semoga putri hamba baik-baik saja. Semoga ia bisa sembuh, masa depannya masih panjang. Saya hanya menginginkan dia sembuh, dia tetap hidup, dan……….. di bisa mengenali kami lagi.

Kepalaku terasa pusing, tubuhku oleng, hampir terjatuh. Apa semua tulisan Mama ini benar? Gea meninggal karena aku? Aku gila? Aku terjatuh dari tangga sehingga harus terbaring di ruangan ini?

***

Perlahan memori itu berkelebatan di kepalaku, kejadian di Bali, kepergian Gea, tangisanku di kamar, semua mulai jelas. Gea memang meninggal karena aku, aku bersalah, aku pembunuh, aku lebih baik mati saja—

Aku berjalan menghampiri jasad yang terbaring lemah di tempat tidur, karena kesalnya terhadap diri sendiri, aku mengguncang tubuh itu, mencopot selang infus dan masker oksigen. Anehnya tanganku bisa memegangnya, tidak tembus lagi. Aku mundur, kaget karena telah membuat selang infus dan masker oksigen terlepas, saat akan memakaikannya lagi, tanganku kini kembali menembus jasad itu.

“Oh, tidak!”

Bagaimana ini? aku akan mati, aku benar-benar akan mati. Tidak lama kemudian, Mama masuk.

“Oh, Tuhan, Dea—“ ia menghampiri jasadku sambil berteriak memanggil dokter, ia terus berteriak tapi dokter tak kunjung datang. Akhirnya ia berlari keluar.

Dokter pun datang dengan dua orang perawat. Ia menyuruh Mama menunggu di luar, aku mengikuti Mama. Mama menelfon Papa sambil mondar-mandir di depan kamar. Air matanya mengalir deras, ia berbicara dengan nafas tersengal-sengal. Selesai menelfon, tangisnya mulai reda namun kesedihan masih tampak meliputi. Ia duduk lemas di kursi, pandangannya kosong.

“Mama, ini Dea. Dea ada di dekat Mama, jangan sedih.”

“Mama maafin Dea, Mama maaf, Mama—“

Kini giliran aku yang menangis. Tetesan air mata kini berubah menjadi aliran air mata karena sangat sedihnya. Tiba-tiba, ada seseorang yang menyodorkan tisu. Aku langsung mengambil tisu itu dan mengusap air mataku. Setelah selesai mengusap air mata, aku mulai tersadar.

Siapa yang memberiku tisu? Bukankah aku tidak terlihat?

Aku membalikkan badan, terlihat seseorang berdiri—aku hanya melihat kakinya karena aku berada dalam posisi duduk. Kuangkat kepalaku dan, oh—dia—

“Hei.”

“Gea?”

“Ayo ikut.”

“Kemana?”

“Ikut saja denganku, kamu mau meninggalkanku sendiri?”

“Aku mau menemani Mama.”

“Lalu aku?”

“Mama sedih.”

“Lalu aku? Aku jadi begini karena Kamu.”

Aku diam.

“Ayo ikut” ia mengulurkan tangan.

Aku tetap diam

“Dea, ayo—“

Entah atas alasan apa, aku akhirnya menerima uluran tangan Gea. Bersamaan dengan itu, dokter keluar dari ruangan. Mama segera berdiri dan menanyakan keadaanku. Dokter menjawabnya dengan gelengan kepala lalu menepuk halus pundak Mama sambil berkata “Kami sudah berusaha yang terbaik”. Mama spontan menangis, sedangkan Gea langsung tersenyum sambil mengedipkan mata padaku.

Ia memegangi tangaku dengan kuat dan menyeretku pergi kearah cahaya di ujung sana. Aku berjalan mengikuti Gea, tapi mataku tetap melihat ke arah Mama.

Baiklah, aku sudah tahu akhirnya.

***